REVIEW MATERI KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA TOPIK 1 – 11
Nama : Faray Ekivalen Sahara Elvia
Kelas / NIM : E1 IKOM / B05219017
A. Ruang
Lingkup dan Dimensi Komunikasi Lintas Budaya
Komunikasi lintas budaya merupakan
suatu komunikasi yang dilakukan dengan latar belakang komunikan dan komunikator
yang berbeda yang dapat menimbulkan suatu kesalahan pengertian sehingga
menghasilkan respon yang berlawanan dengan tujuan. Untuk menghindari hal
tersebut maka antara komunikan dan komunikator perlu merubah cara pandang baru
dalam memahami perbedaan.
Penelitian komunikasi lintas budaya
memfokuskan perhatian pada bagaimana budaya-budaya yang berbeda berinteraksi
dengan proses komunikasi, bagaimana komponen-komponen komunikasi berinteraksi
dengan komponen-komponen budaya. Komponen-komponen Budaya Disiplin yang
menelaah komponen-komponen budaya adalah antropologi budaya, sehingga
penelitian komunikasi lintas budaya harus mengacu pada disiplin tersebut dalam
mengidentifikasi dan mendeskripsikan komponen budaya. Asante mengemukakan enam
komponen budaya yang penting:
1. Komponen
pandangan dunia, setiap budaya punya caranya yang khas dalam memandang
dunia-dalam memahami, menafsirkan dan menilai dunia. Ketika komunikasi lintas
budaya terjadi, pandangan dunia akan mempengaruhi proses decoding dan encoding.
Pandangan dunia juga dapat dipakai untuk mendiagnosis “noise” yang
terjadi dan menunjukkan “terapi” nya.
2. Komponen
kepercayaan (beliefs), salah satu unsur kepercayaan
yang sangat penting dalam komunikasi lintas kultural adalah citra (image)
kita dengan komunikasi dari budaya lain. Citra mempengaruhi perilaku kita dalam
hubungannya dengan orang yang citranya kita miliki. Citra menentukan desain pesan
komunikasi kita.
3. Komponen
nilai, sistem nilai masyarakat dalam budaya tertentu
mempengaruhi cara berpikir anggota-anggotanya. Spranger mengemukakan kategori
nilai yang terkenal antara lain: nilai ilmiah, nilai religius, nilai ekonomis,
nilai estetis, nilai politis dan nilai sosial.
4. Nilai
sejarah, lewat sejarah yang mereka ketahui, anggota masyarakat
saling bertukar pesan dalam komunikasi lintas budaya.
5. Komponen
mitologi, mitologi suatu kelompok budaya memberikan pada kelompok
pemahaman hubungan-hubungan, yakni hubungan orang dengan orang, orang dengan
kelompok luar, dan orang dengan kekuatan alami.
6. Komponen
otoritas status, setiap budaya mempunyai caranya sendiri dalam
mendiskusikan otoritas status. Bersamaan dengan otoritas status ada permainan
peran yang ditentukan secara normatif.
Dimensi komunikasi lintas
budaya yang dirumuskan oleh Geert Hofstede (1984) menyatakan
bahwa budaya adalah pemrograman kolektif dari pikiran yang membedakan anggota
satu kelompok atau kategori orang dari yang lain. Hofstede dipandang
berkonstribusi besar terhadap manajemen lintas budaya melalui berbagai
penelitian tentang lintas budaya khususnya dampak perbedaan budaya nasional
terhadap manajemen. Melalui penelitiannya tersebut, Hofstede mengidentifikasi
perbedaan mendasar antara budaya nasional dan menemukan empat dimensi budaya
yang masing-masing merepresentasikan sebuah perbedaan yang berdasarkan garis
lurus. Adapun dimensi budaya menurut Hofstede adalah sebagai berikut :
1. Power
distance, jarak kekuasaan adalah sejauh mana anggota dengan
kekuasaan terbatas dari suatu institusi dan organisasi dalam sebuah negara
berharap dan menerima bahwa kekuasaan tersebut didistribusikan secara tidak
merata.
2. Uncertainty
avoidance, penghindaran ketidakpastian merujuk pada sejauh mana
anggota suatu budaya merasa terancam oleh situasi yang tidak pasti dan tidak
diketahui.
3. Individualism-collectivism, individualisme adalah
sebuah masyarakat dimana hubungan antara individu bersifat longgar dalam artian
setiap orang diharapkan untuk menjaga dirinya sendiri dan keluarga dekatnya
saja. Kolektivisme adalah sebuah masyarakat dimana orang sejak
lahir dan seterusnya diintegrasikan ke dalam keadaan yang kuat, kohesif dalam
kelompok, yang sepanjang masa hidup manusia ters melindungi mereka dengan
imbalan kesetiaan yang tidak diragukan lagi.
4. Masculinity-femininity,
maskulinitas merujuk pada sebuah masyarakat dimana peran sosial gender
sangatlah jelas berbeda, misalnya pria seharusnya bersikap asertif, kuat, dan
fokus pada kesuksesan materi. Sedangkan wanita seharusnya bersifat sederhana,
lembut, dan peduli dengan kualitas hidup. Femininitas merujuk pada sebuah
masyarakat dimana peran sosial gender saling tumpang tindih antara pria dan
wanita.
5. Long
term-short term orientation, dimensi budaya kelima yaitu
orientasi jangka panjang dan orientasi jangka pendek merupakan dimensi tambahan
yang dikemukakan oleh globe. Yang dimaksud dengan orientasi jangka panjang
adalah pembinaan kebajikan yang berorientasi pada penghargaan masa depan
khususnya ketekunan dan hemat. Sedangkan, yang dimaksud dengan orientasi jangka
pendek merujuk pada pembinaan kebajikan terkait dengan masa lalu dan masa kini
khususnya menghormati tradisi, pelestarian budaya, dan memenuhi kewajiban
sosial. Berbagai dimensi budaya tersebut umumnya digunakan untuk mengelola
multikulturalisme. Berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli
kerapkali mengaitkan berbagai dimensi budaya dengan negosiasi guna meningkatkan
kemampuan manajer untuk menjelaskan dan memprediksi dampak budaya.
B. Komunikasi
Internasional
Onong Uchjana Effendy menagatakan bahwa
komunikasi internasional adalah komunikasi yang dilakukan komunikator yang
mewakili suatu negara untuk menyampaikan pesan-pesan yang berkaitan dengan
berbagai kepentingan negaranya kepada komunikan yang mewakili negara lain
dengan tujuan untuk memperoleh dukungan, bantuan, dan kerja sama, melalui
berbagai media komunikasi atau media massa internasional. Sejarah komunikasi
internasional sendiri dimulai ketika adanya studi lapangan pada abad ke-20.
Beberapa kawasan yang meneyebabkan tumbuhnya Komunikasi Internasional adalah
Pertama, pertentangan, perang dan propaganda-Internasional. Kedua perkembangan
organisasi-organisasi dan diplomasi-diplomasi Internasional. Ketiga Penyebaran
Ideologi dan penggunaan Komunikasi sebagai penyebar pesan-pesan Ideologi.
Keempat, Pemetaan teknologi Komunikasi yang semakin canggih dan berkembang yang
terjadi pada tahun 80-an di mana, Telekomunikasi dan Teknologi Komunikasi
berkembang dengan pesat, berkembang Negara-negara-negara maju dan berkembangnya
Organisasi-Organisasi Internasional.
Unsur-unsur komunikasi internasional
1. Komunikator-komunikan yang terdiri dari bangsa yang
berbeda
2. Pesan yang disampaikan berkaitan dengan masalah
internasional
3. Saluran yang digunakan adalah saluran internasional
Pendekatan dalam komunikasi Internasional
1. Pendekatan idealistik-humanistik. Metode untuk memupuk
serta mempererat hubungan persahabatan dan kerjasama internasional; memecahkan
masalah-masalah hubungan antarmanusia, antarbangsa; serta menemukan cara-cara
untuk memelihara dan meningkatkan kesejahteraan dunia semesta.
2. Kepengikutan politik baru (political proselyzation)
3. Informasi sebagai kekuatan ekonomi “Siapa yang menguasai
informasi, dialah yang menguasai dunia”.
4. Kekuatan politik. Mempertahankan atau memperluas wilayah
pengaruh.
Perpektif Komunikasi Internasional
1. Perspektif Diplomatik Dalam perspektif Diplomatik,
komunikasi internasional adalah kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh
pemerintah atau negara dengan pemerintah atau negara lain melalui saluran
diplomatik. Dalam perspektif Diplomatik, komunikasi internasional lazimnya
dilakukan secara interpersonal atau kelompok kecil. Tujuan komunikasi
internasional dalam perspektif diplomatik: Menghindari konflik antarnegara,
mengembangkan Kerjasama (bilateral/multilateral), memperkuat posisi
tawar-menawar (bargaining position), meningkatkan citra dan reputasi suatu
negara, memelihara perdamaian dunia, mengembangkan pembangungan internasional.
2. Perspektif Jurnalistik Kegiatan
Komunikasi Internasional perspektif Jurnalistik berlangsung
objektif yang artinya menambah pengetahuan serta menumbuhkan kesadaran terhadap
suatu permasalahan. Selanjutnya yaitu kegiatan berlangsung subjektif yang
artinya untuk kepentingan propaganda dengan tujuan akhir mengubah kebijakan dan
kepentingan suatu negara atau memperlemah posisi negara lawan atau lain yang
dipandang tidak/kurang bersahabat.
3. Perspektif Propagandalistik
4. Perspektif Kulturaliustik
5. Perpektif Bisnis
C. Proses,
Teori dan Model Komunikasi Lintas Budaya
Proses Komunikasi
Lahirnya ilmu komunikasi
antarbudaya tidak jauh dari sosiologi, antropologi, psikologi dan juga sastra.
Artinya ilmu komunikasi antarbudaya tidak beda jauh dengan ilmu sosiologi.
Meski pun begitu, tetapi ilmu komunikasi antarbudaya dapat di bedakan yaitu dari
prosesnya, terutama apakah itu dari interaksinya maupun produknya. Dalam hal
ini, terbukti perbedaan antara komunikasi antarbudaya sangat sedikit dengan
sosiologi dan juga antropologi.
Dalam hal ini ilmu komunikasi
antarbudaya adalah interaksi antarmanusia sebagai proses yang mengandung arti.
Arti dalam ilmu komunikasi sesuatu yang paling subtansial untuk lancarnya
komunikasi antara manusia yang berbeda budaya. Ilmu komunikasi antarbudaya
lebih fokus perhatiannya yaitu pada pesan yang disampaikan oleh pelaku
komunikasi. Pelaku komunikasi ialah orang yang berbeda budaya. Artinya, pesan
komunikasi antarbudaya memahami makna dan juga memahami perbedaan budaya antara
kedua pelaku komunikasi.
Salah satu model komunikasi
yang dapat digunakan untuk menggambarkan proses komunikasi bisnis adalah model
komunikasi Schramm. Adapun tahapan dalam proses komunikasi bisnis di antaranya
adalah :
1. Pengirim
pesan memiliki ide atau gagasan proses komunikasi bisnis diawali dengan adanya ide
atau gagasan yang dimiliki oleh pengirim pesan. Pada tahapan ini,
pengirim pesan menciptakan sebuah ide atau gagasan untuk nantinya
dikomunikasikan kepada penerima pesan.
2. Pengirim
pesan, ide atau gagasan sebagai sebuah pesan tahap selanjutnya adalah encoding yaitu mengartikan
ide atau gagasan ke dalam bentuk yang dapat dikomunikasikan kepada penerima
pesan.
3. Pengirim
pesan merumuskan pesan setelah pengirim pesan, ide atau gagasan ke dalam bentuk
pesan, tahap selanjutnya adalah pengirim pesan harus merumuskan
pesan dengan baik.
Teori Komunikasi
1.Teori Kecemasan dan Ketidakpastian Teori ini
dikembangkan oleh William Gudykunts yang memfokuskan pada perbedaan budaya
antar kelompok dan orang asing. Ia menjelaskan bahwa teorinya ini dapat
digunakan dalam segala situasi dan kondisi berkaitan dengan terdapatnya
perbedaan diantara keraguan dan ketakutan. Gudykunts berpendapat bahwa
kecemasan dan ketidakpastianlah yang menjadi penyebab kegagalan komunikasi
antar kelompok. lebih lanjut ia menjabarkan bahwa terdapat enam konsp dasar
dalam teorinya ini yaitu :
• Konsep diri, berkaitan dengan meningkatnya harga diri
ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain akan menghasilkan kemampuan
meningkatkan kecemasan.
•
Motivasi berinteraksi dengan orang asing, berkaitan dengan peningkatan
kebutuhan diri untuk masuk dalam kelompok. Ketika seseorang berinteraksi dengan
orang asing, interaksi tersebut akan meningkatkan kecemasan.
•
Reaksi terhadap orang asing, berkaitan dengan peningkatan menerima informasi,
toleransi dan empati terhadap orang asing akan meningkatkan kemampuan seseorang
untuk memprediksi perilaku orang asing tersebut.
•
Kategori sosial orang asing, berkaitan dengan peningkatan kesamaan personal
diantara kita dengan orang asing. Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan
memprediksi perilaku mereka secara akurat serta kemampuan mengelola kecemasan
begitu pula sebaliknya.
•
Proses Situasional, berkaitan dengan peningkatan situasi informal dimana kita
berinteraksi dengan orang asing. Dengan tujuan akan meningkatkan kemampuan kita
dalam mengelola kecemasan serta meningkatkan kepercayaan diri kita terhadap
mereka.
•
Koneksi dengan orang asing, berkaitan dengan peningkatan ketertarikan, hubungan
dan jalinan kerja dengan orang asing. Dengan tujuan akan menurunkan kecemasan
dan meningkatkan kepercayaan pada diri kita.
2.Teori Negosiasi Wajah Teori yang di kemukakan oleh Stella Ting-Toomey ini
menjelaskan bagaimana perbedaan-perbedaan dari berbagai budaya dalam merespon
berbagai konflik yang dihadapi. Ia berpendapat bahwa orang-orang dalam setiap
budaya akan selalu mencitrakan dirinya didepan publik, hal tersebut merupakan
cara baginya agar orang lain melihat dan memperlakukannya. Lebih lanjut Ia
menjelaskan bahwa wajah bekerja merujuk pada pesan verbal dan non verbal yang
membantu menyimpan rasa malu, dan menegakkan muka terhormat. Dalam hal ini,
identitas selalu dipertanyakan, kecemasan dan ketidakpastian yang disebabkan
konflik membuat kita tak berdaya dan harus menerima.
3.Teori Kode Bicara Gerry Phillipsen dalam teorinya ini berusaha menjelaskan
bagaimana keberadaan kode bicara dalam suatu budaya. Dan juga bagaimana
kekuatan dan dan substansinya dalam sebuah budaya. Lebih lanjut ia menjelaskan
kiranya terdapat lima proporsi dalam teori ini yaitu :
• Dimanapun ada budaya, disana pasti ada kode bahasa yang
menjadi ciri khas.
•
Sebuah kode bahasa mencangkup sosiologi budaya, retorika dan psikologi budaya.
•
Pembicaraan yang signifikan bergantung pada kode bicara yang digunakan
pembicara dan pendengar untuk mengkreasikan dan menginterprestasi komunikasi
mereka. • Berbagai istilah aturan dan premis terkait dalam pembicaraan itu
sendiri
•
Kegunaan suatu kode bicara adalah untuk menciptakan kondisi yang memadai.
Kondisi yang terkait dengan prediksi, penjelasan dan kontrol guna menciptakan
formula wacana tentang kecerdasan, kebijaksanaan dan moralitas perilaku dalam
berkomunikasi.
Model-Model
Komunikasi
Berikut ini akan Pakar
Komunikasi paparkan beberapa model komunikasi antar budaya menurut para ahli
sebagai referensi anda dalam mempelajari komunikasi antar budaya.
1.Model
Komunikasi Antarbudaya Menurut Porter & Larry A. Samovar Budaya
mempengaruhi prilaku komunikasi individu, budaya yang berbeda akan menghasilkan
pengaruh serta sifat komunikasi yang berbeda pula. Ketika seorang individu
berkomunikasi dengan individu lain yang memiliki kebudayaan berbeda maka makna
pesan yang disampaikan komunikator akan berubah mengikuti persepsi budaya
komunikan. Contohnya komunikasi mengenai eksistensi Tuhan yang dilakukan oleh
individu yang beragama Kristen (budaya A) dengan individu yang beragama Islam
(budaya B). Keduanya akan sepakat bahwa Tuhan itu memang ada.
Berbeda
jika komunikasi mengenai eksistensi Tuhan dilakukan oleh individu beragama
tersebut (budaya A) dengan seorang atheis (budaya C). Maka komunikasi tidak
akan efektif, sebab terdapat persepsi yang sangat berbeda mengenai keberadaan
Tuhan, budaya A mengakui adanya Tuhan, namun budaya C tidak mengakui adanya
Tuhan
2.
Model Komunikasi Antar Budaya Menurut William B. Gudykunst dan Young Yun Kim
Model komunikasi antar budaya menurut William B.Gudykunst dan Young Yun Kim
merupakan komunikasi yang dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari budaya
yang berlainan, atau orang asing. Dalam model ini, masing-masing individu
berperan sebagai pengirim sekaligus juga penerima pesan. Dengan begitu, pesan
yang disampaikan seseorang merupakan umpan balik untuk lawan bicaranya. Terjadi
penyandian serta penyandian balik pesan. Gudykunst dan Kim menyatakan bahwa
penyandian dan penyandian balik pesan tersebut merupakan sebuah proses
interaktif. Proses tersebut dipengaruhi oleh filter konseptual seperti budaya,
sosiobudaya, psikobudaya, dan faktor lingkungan. Persepsi seseorang atas
lingkungannya mempengaruhi cara seseorang dalam menafsirkan rangsangan serta
memprediksi prilaku orang lain
3.
Model Dimensi Waktu Dalam Komunikasi Antarbudaya Menurut Tom Bruneau Menurut
model ini waktu merupakan variable penting yang mendasari semua situasi
komunikasi. Waktu menentukan hubungan, pola hidup antar manusia, dan pola hidup
manusia tersebut dipengaruhi oleh budayanya. Dimensi waktu meliputi perbedaan
konsepsi waktu dan tempo khusus dari tiap kelompok budaya (prilaku temporal.
Terdapat dua jenis konsep waktu, yaitu:
•
Waktu Polikronik: Konsep waktu Polikronik memandang bahwa waktu merupakan suatu
putaran yang akan kembali dan kembali lagi. Orang yang menganut konsep ini
beranggapan bahwa apa yang dilakukan di waktu ini, merupakan sesuatu yang bisa
di perbaiki di waktu atau kesempatan lain. Misalnya ketika tidak belajar dengan
baik sehigga mendapatkan nilai buruk, pelajar yang menganut konsep waktu
polikronik akan berpikir dapat memperbaikinya di waktu lain
•
Waktu Monokronik: Konsep waktu monokronik memandang bahwa waktu berjalan lurus
dari masa lsilam ke masa depan. Orang yang menganut konsep ini cenderung lebih
menghargai waktu itu sendiri, sehingga tidak ingin melewatkan waktu dengan hal
yang sia-sia atau tidak berguna. Misalnya seorang pelajar yang menganut konsep
waktu monokronik akan terus belajar dengan baik, agar dapat memperoleh nilai
yang baik disetiap kesempatan. Atau seorang mahasiswa yang menganut konsep
monokronik akan berusaha keras (terburu-buru berlari) agar tidak terlambat
masuk kelas saat kuliah.
D. Hakikat
dan Unsur-Unsur Komunikasi Lintas Budaya
1. Hakikat
Komunikasi Lintas Budaya
Pada hakikatnya proses
komunikasi antar budaya sama halnya dengan komunikasi lain, yakni proses
interaktif, transaksional dan dinamis. Model komunikasi interaktif adalah
komunikasi yang dilakukan antara komunikator dengan komunikan dalam dua
arah/timbal balik. Model komunikasi transaksional adalah proses pengiriman dan
penerimaan pesan yang berlangsung secara terus menerus dalam sebuah episode
komunikasi.
Hakikat komunikasi antar
budaya menurut Devito, ada dua hakikat komunikasi antarbudaya, yaitu:
Enkulturasi
Enkulturasi
mengacu pada proses dimana kultur (budaya) ditransmisikan dari satu generasi ke
generasi berikutnya. Kita mempelajari kultur, bukan mewarisinya. Kultur
ditransmisikan melalui proses belajar, bukan melalui gen. Orang tua, kelompok,
teman, sekolah, lembaga keagamaan, dan lembaga pemerintahan merupakan guru-guru
utama dibidang kultur. Enkulturasi terjadi melalui mereka. Contoh adalah
pembelajaran seni Tari Topeng di sanggar Tari Keraton Kacirebonan.
Akulturasi
Akulturasi
mengacu pada proses dimana kultur seseorang dimodifikasi melalui kontak atau
pemaparan langsung dengan kultur lain. Misalnya, bila sekelompok imigran
kemudian berdiam di Amerika Serikat (kultur tuan rumah), kultur mereka sendiri
akan dipengaruhi oleh kultur tuan rumah ini. Berangsur-angsur, nilai-nilai,
cara berperilaku, serta kepercayaan dari kultur tuan rumah akan menjadi bagian
dari kultur kelompok imigran itu. Pada waktu yang sama, kultur tuan rumah pun
ikut berubah.
2. Unsur-Unsur
Komunikasi Lintas Budaya
a. Komunikator Komunikator dalam komunikasi antar budaya
adalah pihak yang memperkasai komunikasi , artinya dia mengawali pengiriman
pesan tertentu kepada pihak lain yang disebut komunikan. Dalam komunikasi
antarbudaya seorang komunikator berasal dari latar belakang kebudayaan tertentu,
misalnya kebudayaan A berbeda dengan komunikan yang berkebudayaan B.
b. Komunikan Komunikan dalam komunikasi antarbudaya
adalah pihak yang menerima pesan tertentu. Dia menjadi tujuan/ sasaran
komunikasi dari pihak lain (komunikator). Dalam komunikasi antarbudaya, seorang
komunikan berasal dari latar belakang sebuah kebudayaan tertentu, misalnya
kebudayaan B.
c. Pesan Pesan adalah apa yang ditekankan atau yang
dialihkan oleh komunikator kepada komunikan. Setiap pesan sekurang-kurangnya
mempunyai dua aspek utama. Content dan Treatment, yaitu isi dan perlakuan. Isi
pesan meliputi aspek daya tarik pesan, misalnya kebaruan,
kontroversi,argumentatif, rasional bahkan emosional.dan daya tarik pesan saja
tidak cukup, akan tetapi sebuah pesan juga perlu mendapatkan perlakuan,
perlakuan atas pesan berkaitan dengan penjelasan atau penataan isi pesan oleh
komunikator.
d. Media Dalam proses komunikasi antarbudaya, media
merupakan tempat, saluran yang dilalui oleh pesan atau simbol yang dikirim
melalui media tertulis dan media massa. Akan tetapi kadang-kadang pesan itu
dikirim tidak melalui media, terutama dalam komunikasi antar budaya tatap muka.
e. Efek dan umpan balik Manusia mengkomunikasikan pesan
karena dia mengharapkan agar tujuan dan fungsi komunikasi itu tercapai. Tujuan
dan fungsi komunikasi, termasuk komunikasi antarbudaya, antara lain memberikan
informasi, menjelaskan/meguraikan tentang sesuatu, memberikan hiburan,
memaksakan pendapat atau mengubah sikap komunikan. Dalam proses tersebut
umumnya menghendaki reaksi balikan yang disebut umpan balik. Umpan balik
merupakan tanggapan balik dari komunikan kepada komunikator atas pesanpesan
yang telah disampaikan. Tanpa umpan balik atas pesan-pesan dalam komunikasi
antarbudaya maka komunikator dan komunikan tidak bisa memahami ide, pikiran dan
perasaan yang terkadang dalam pesan terkandung dalam pesan tersebut.
f. Suasana (Setting dan Context) Satu faktor penting
dalam komunikasi antarbudaya adalah suasana yang kadang-kadang disebut setting
of communication, yakni tempat (ruang,space) dan waktu (time) serta suasana
(sosial/psikologis) ketika komunikasi antar budaya berlangsung. g. Gangguan
(Noise atau Interference ) Gangguan dalam komunikasi antarbudaya adalah segala
ssesuatu yang menjadi penghambat laju pesan yang ditukar antara komunikator
dengan komunikan, atau yang paling fatal adalah menguraikan makna pesan
antarbudaya. Gangguan menghambat komunikan menerima pesan dan sumber pesan.
Gangguan (noise) dikatakan ada dalam satu sistem komunikasi bila dalam membuat
pesan berbeda dengan pesan yang diterima.
E. Budaya,
Sub Budaya, dan Kontekstualisasi
1. Pengertian Budaya
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa
sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi
atau akal) diartikan sebagai hal- hal yang berkaitan dengan budi dan akal
manusia, dalam bahasa inggris kebudayaan disebut culture yang
berasal dari kata latin colere yaitu mengolah atau mengerjakan
dapat diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani, kata culture juga
kadang sering diterjemahkan sebagai “Kultur” dalam bahasa Indonesia.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Kuntjaraningrat
bahwa “kebudayaan” berasal dari kata sansekerta buddhayah bentuk
jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal, sehingga
menurutnya kebudayaan dapat diartikan sebagai hal- hal yang bersangkutan dengan
budi dan akal, ada juga yang berpendapat sebagai suatu perkembangan dari
majemuk budidaya yang artinya daya dari budi atau kekuatan dari akal.
Menurut Koentjaraningrat, istilah universal
menunjukkan bahwa unsur-unsur kebudayaan bersifat universal dan dapat ditemukan
di dalam kebudayaan semua bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia.
Ketujuh unsur kebudayaan tersebut adalah :
- Sistem Bahasa
Bahasa merupakan sarana bagi manusia untuk memenuhi
kebutuhan sosialnya untuk berinteraksi atau berhubungan dengan sesamanya.
- Sistem Pengetahuan
Sistem pengetahuan dalam kultural universal
berkaitan dengan sistem peralatan hidup dan teknologi karena sistem pengetahuan
bersifat abstrak dan berwujud di dalam ide manusia.
- Sistem Sosial
Unsur budaya berupa sistem kekerabatan dan
organisasi sosial merupakan usaha antropologi untuk memahami bagaimana manusia
membentuk masyarakat melalui berbagai kelompok sosial. Menurut Koentjaraningrat
tiap kelompok masyarakat kehidupannya diatur oleh adat istiadat dan
aturan-aturan mengenai berbagai macam kesatuan di dalam lingkungan di mana dia
hidup dan bergaul dari hari ke hari.
- Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi
Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan
hidupnya sehingga mereka akan selalu membuat peralatan atau benda-benda
tersebut.
- Sistem Mata Pencaharian Hidup
Mata pencaharian atau aktivitas ekonomi suatu
masyarakat menjadi fokus kajian penting etnografi. Penelitian etnografi
mengenai sistem mata pencaharian mengkaji bagaimana cara mata pencaharian suatu
kelompok masyarakat atau sistem perekonomian mereka untuk mencukupi kebutuhan
hidupnya.
- Sistem Religi
Asal mula permasalahan fungsi religi dalam
masyarakat adalah adanya pertanyaan mengapa manusia percaya kepada adanya suatu
kekuatan gaib atau supranatural yang dianggap lebih tinggi daripada manusia dan
mengapa manusia itu melakukan berbagai cara untuk berkomunikasi dan mencari
hubungan-hubungan dengan kekuatan-kekuatan supranatural tersebut.
- Kesenian
Perhatian ahli antropologi mengenai seni bermula
dari penelitian etnografi mengenai aktivitas kesenian suatu masyarakat
tradisional.
2. Sub Budaya
Setiap budaya terdiri sub budaya yang lebih kecil
yang memberikan lebih banyak ciri-ciri dan sosialisasi khusus bagi anggotanya.
Sub budaya terdiri dari bangsa, agama, kelompok ras, dan daerah geografis.
Banyak sub budaya yang membentuk segmen pasar penting dengan merancang produk
dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Suatu
perusahaan membuat produk sesuai dengan daerah dimana produk tesebut dipasarkan
(Kotler dan Keller, 2007).
Menurut Solomon (2004), sub budaya terdiri dari
anggota yang memiliki kesamaan kepercayaan dan pengalaman yang membedakan
anggota tersebut dari yang lain. Anggota ini bisa didasarkan dari kesamaan
umur, ras, latar belakang suku, atau tempat tinggal. Setiap suku memiliki
keinginan dan kebutuhan yang berbeda, seperti dalam menentukan suatu produk,
memilih tempat wisata, perilaku politik serta keinginan untuk mencoba produk
baru. Dalam segi umur pun juga mempengaruhi dalam perilaku konsumsi.
Menurut Schifman dan Kanuk (2008), sub budaya
membagi keseluruhan masyarakat menjadi berbagai macam variabel sosiobudaya dan
demografis seperti kebangsaan, agama, lokasi geografis, ras, usia, gender, dan
bahkan status pekerjaan. Para anggota sub budaya tertentu mempunyai nilai-nilai,
kepercayaan, dan kebiasaan yang membedakan anggota sub budaya tersebut dari
anggota lain dalam masyarakat yang sama.
3. Kontekstualisasi
Kontekstualisasi adalah usaha menempatkan sesuatu dalam konteksnya,
sehingga tidak asing lagi, tetapi terjalin dan menyatu dengan keseluruhan
seperti benang dalam tekstil. Dalam hal ini tidak hanya tradisi kebudayaan yang
menentukan tetapi situasi dan kondisi sosial pun turut berbicara. Hal ini erat
kaitanya dengan berkomunikasi antar sesama. Apalagi dimasa pandemic seperti
rentan terjadi perbedaan ketika berkomunikasi karna kita tidak melihat lawan
bicara kita secara langsung.
Istilah kontekstualisasi pertama kali dicetuskan oleh Aharon Sapaezian
dan Shoki Coe, kepada direktur Theological Education Fund WCC pada tahun
1972. Karena menilai bahwa indegenisasi teologi (memaksa budaya lokal
untuk menyesuaikan dengan budaya lain) tidak memadai, maka konsep
kontekstualisasi diangkat untuk mengusahakan indegenisasi teologi dengan
menerima input proses sekularitas, teknologi, serta pergumulan demi hak asasi
manusia yang merupakan "The Historical Moment of Nations in the Third
World". Lalu faktor-faktor yang menimbulkan kontekstualitas
ialah, dominasi budaya, teologi yang tidak relevan, gerakan gerakan
nasionalisme. Dan yang terakhir 3 bidang cakupan kontekstualisasi:
- Kontekstualisasi
orang yang menyampaikan/sumber kesaksian itu sendiri.
- Kontekstualisasi
masyarakat dan pemimpinnya.
- Kontekstualisasi
firman.
F. F. Komunikasi
Budaya Tinggi dan Rendah
Komunikasi Konteks Tinggi (Hight Context)
Komunikasi
bersifat implisit dan ambigu atau tidak berterus terang. Orang yang menggunakan
komunikasi ini cenderung menggunkan bahasa yang diplomatis atau berputar-putar.
Contoh suku yang menggunakan komunikasi konteks tinggi adalah suku Jawa.
Komunikasi Konteks Rendah (Low Context)
Komunikasi
bersifat langsung (to the point) lugas, langsung. Contoh orang yang menggunakan
komunikasi konteks rendah adalah orang Makassar.
Streotipe
Komunikasi
dengan penilaian terhadap sesuatu atau seseorang hanya berdasarkan presepsi
berdasarkan kelompok dimana ia dilahirkan.
G. Komunikasi Simbolik
Menurut
kamus komunikasi definisi interaksi adalah proses saling mempengaruhi dalam
bentuk perilaku atau kegiatan di antara anggota-anggota masyarakat dan definisi
simbolik adalah bersifat melambangkan sesuatu. Simbolik berasal dari bahasa
Latin “Symbolic(us)” dan bahasa Yunani “symbolicos”. (Susanne
K. Langer dalam Mulyana. 2008: 92), dimana salah satu kebutuhan pokok manusia
adalah kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang, dimana manusia adalah
satu-satunya hewan yang menggunakan lambang. Keunggulan manusia yang lain dan
membedakan dari mahluk lain adalah keistimewaan mereka sebagai animal
symbolicum.
Interaksi
simbolik adalah suatu faham yang menyatakan bahwa hakekat terjadinya interaksi
sosial antara individu, antar individu dengan kelompok, kemudian antara
kelompok dengan kelompok dalam masyarakat, itu karena komunikasi, suatu
kesatuan pemikiran di mana sebelumnya pada diri masing-masing yang terlibat
berlangsung internalisasi atau pembatinan
Interaksi
simbolik ada karena ide-ide dasar dalam membentuk makna yang berasal dari
pikiran manusia (Mind) mengenai diri (Self), dan
hubungannya di tengah interaksi sosial, dan bertujuan akhir untuk memediasi,
serta menginterpretasi makna di tengah masyarakat (Society) dimana
individu tersebut menetap. Seperti yang dicatat oleh Douglas (1970) dalam
Ardianto (2007: 136), makna itu berasal dari interaksi, dan tidak ada cara lain
untuk membentuk makna, selain dengan membangun hubungan dengan individu lain
melalui interaksi.
Tiga ide dasar dari interaksi
simbolik antara lain:
- Pikiran,
kemampuan untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna sosial yang sama,
dimana tiap individu harus mengembangkan pikiran mereka melalui interaksi
dengan individu lain.
- Diri,
kemampuan untuk merefleksikan diri tiap individu dari penilaian sudut pandang
atau pendapat orang lain, dan teori interaksionisme simbolis adalah salah satu
cabang dalam teori sosiologi yang mengemukakan tentang diri sendiri dan dunia
luarnya.
- Masyarakat,
sebuah tatanan hubungan sosial yang diciptakan, dibangun, dan dikonstruksikan
oleh tiap individu ditengah masyarakat, dan tiap individu tersebut terlibat
dalam perilaku yang mereka pilih secara aktif dan sukarela, yang pada akhirnya
mengantarkan manusia dalam proses pengambilan peran di tengah masyarakatnya.
Tiga tema
konsep pemikiran George Herbert Mead yang mendasari interaksi simbolik antara
lain:
- Pentingnya
makna bagi perilaku manusia.
- Pentingnya
konsep mengenai diri
- Hubungan
antara individu dengan masyarakat
Tema
pertama pada interaksi simbok berfokus pada pentingnya membentuk makna bagi
perilaku manusia, dimana dalam teori interaksi simbolik tidak bisa dilepaskan
dari proses komunikasi karena awalnya makna itu tidak ada artinya, sampai pada
akhirnya di konstruksi secara interpretatif oleh individu melalui proses
interaksi, untuk menciptakan makna yang dapat disepakati secara bersama.
Tema
kedua pada interaksi simbolik berfokus pada pentingnya “konsep diri” atau “Self-Concept”. Dimana,
pada tema interaksi simbolik ini menekankan pada pengembangan konsep diri
melalui individu tersebut secara aktif didasarkan pada interaksi sosial dengan
orang lainnya.
Tema
terakhir pada interaksi simbolik berkaitan dengan hubungan antara kebebasan
individu dan masyarakat, dimana asumsi ini mengakui bahwa norma-norma sosial
membatasi perilaku tiap individunya, tapi pada akhirnya tiap individu-lah yang
menentukan pilihan yang ada dalam sosial kemasyarakatannya. Fokus dari tema ini
adalah untuk menjelaskan mengenai keteraturan dan perubahan dalam proses
sosial.
Daftar
Pustaka
https://pakarkomunikasi.com/teori-komunikasi-antar-budaya#:~:text=Komunikasi%20antar%20budaya%20merupakan%20suatu,latar%20belakang%20budaya%20yang%20berbeda
http://fikri-jufri-renaissance.blogspot.com/2012/06/definis-hakikat-dan-ruang-lingkup.html
Ardianto,
Elvinaro dan Bambang Q-Anees, 2007, Filsafat Ilmu Komunikasi,
Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Cupach, William R. dan Daniel J.
Canary. 1997. Competence in Interpersonal Conflict. Illinois :
Waveland Press, Inc.
Effendy, Onong Uchjana, 1989, Kamus
Komunikasi, Bandung: Mandar Maju.
Kotler, P.
& Keller, K. L. (2007). Manajemen pemasaran (12th ed).
Jakarta: PT. Indeks.
Liliweri,
Alo. 2011. Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Jakarta: Kencana Prenada
Schiffman, L. G. & Kanuk, L. L.
(2008). Consumer behavior (7th ed). International Edition,
Upper Saddle River, New Jersey: Prentice Hall.
Solomon, M. R. (2004). Consumer
behavior: buying, having, and being (6th ed). Upper Saddle
River, New Jersey: Pearson Prentice Hall.
Mulyana, Deddy. (2008). Ilmu
Komunikasi:Suatu Pengantar. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.
Mulyana, Deddy dan Rakhmat, Jalaluddin (Eds.) Komunikasi
Antarbudaya : Panduan Berkomunikasi dengan Orang-orang Berbeda Budaya, PT
Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001
Mohammad
Shoelhi, Komunikasi Lintas Budaya, (Bandung: Simbiosa Rektama
Media, 2015), hlm.2
PDF version: https://drive.google.com/file/d/1TBsNYBRdDm8bVY-Xx79JOCAuhjDIja3E/view?usp=sharing
Komentar
Posting Komentar